Senin, 13 Mei 2019

Mukti,D


Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Stress Pada Lanjut Usia 
Dede Mukti (C1AA18029)




A.    Terapi Tertawa

 Tertawa merupakan suatu reaksi dari suatu stimulus tertentu yang terlihat dari ekspresi bahagia atau perasaan senang. Terapi tawa adalah aplikasi yang berisi latihan pernapasan dan gerakan fisik. Latihan tawa dimulai dengan pernapasan yang benar latihan dan kemudian tawa dicapai dengan menggunakan permainan, badut, menari dan pergerakan (Demir Melike, 2015).


Terapi tertawa merupakan kegembiraan di dalam hati yang dikeluarkan melalui mulut dalam bentuk suara tawa, senyuman yang menghias wajah, perasaan hati yang lepas dan bergembira, dada yang lapang, peredaran darah yang lancar sehingga bisa mencegah penyakit, memelihara kesehatan, serta menghilangkan stress. Terapi dengan menggunakan humor dan tawa yang berguna untuk membantu individu menyelesaikan masalah, baik dalam bentuk gangguan fisik maupun gangguan mental (Farida Umamah, 2017) dalam (Trifonia Sri Nurwela, 2015) dalam (Ananta Erfrandau, 2017).

Terapi tertawa merilekskan otot dan meningkatkan pernafasan. Ini meningkatkan ambang rasa sakit, meningkatkan toleransi dan meningkatkan kesejahteraan psikologis. Ini juga meningkatkan keramahan dan kolaborasi dan memfasilitasi identitas kelompok, solidaritas dan kekompakan (Demir melike, 2015).
 
  B. Stress
Stres telah menjadi bagian dari kehidupan di abad ke-21. Hampir tujuh puluh persen dari penyakit berakar pada stres. Kerusakan saraf, tekanan darah tinggi, depresi, jantung penyakit dan bisul terus meningkat. Ada banyak cara untuk menghilangkan stres. Tapi salah satu obat terbaik dan termurah tersedia di tangan kita sendiri adalah tawa. Tawa adalah salah satu cara hebat untuk stress (A Kripa Angeline, R Madhavi, 2015).

Stress merupakan sebuah keadaan yang dialami lansia ketika ada sebuah ketidaksesuaian antara tuntutan-tuntutan yang diterima dan kemampuan untuk mengatasinya. Stress terjadi pada lansia apabila stresor dirasakan dan dipersepsikan sebagai ancaman sehingga menimbulkan kecemasan yang merupakan awal dari gangguan kesehatan fisik dan psikologis yang berupa perubahan fungsi fisiologis, kognitif, emosi, dan perilaku (Jefri Selo, 2017).

 
  C. Lanjut Usia
Lanjut usia merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang tidak secara tiba-tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa dan akhirnya menjadi tua, yang disertai dengan terjadinya kemunduran baik fungsi fisik, intelektual, kognitif, emosional maupun sosial (Trifonea Sri Nurwela, 2015).
 
Lansia merupakan tahap terakhir dalam tahap pertumbuhan. Dan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Proses menua ditandai dengan adanya perubahan-perubahan baik anatomis, biologis, fisiologis, maupun psikologis. Gejala-gejala kemunduran fisik antara lain kulit mulai mengendur, timbul keriput, mulai beruban, pendengaran dan penglihatan mulai berkurang, mudah lelah, gerakan mulai lambat dan kurang lincah. Masalah tersebut akan berpotensi pada masalah kesehatan baik secara umum maupun kesehatan jiwa (Juniarti, 2008) dalam (Jefri Selo, 2017).
 
Populasi lansia semakin meningkat. Jumlah penduduk di 11 negara anggota WHO kawasan Asia Tenggara yang berusia di atas 60 tahun berjumlah 142 juta orang dan di perkirakan akan terus meningkat hingga 3 kali lipat di tahun 2050. Sedangkan Jumlah lansia di seluruh dunia dapat mencapai jumlah 1 miliar orang dalam kurun 10 tahun mendatang (Data Kependudukan PBB, 2013). Indonesia termasuk salah satu negara Asia yang pertumbuhan penduduk lansianya cepat. Sejak tahun 2000, Indonesia sudah memiliki lansia sebesar 14,4 juta penduduk (7,18% dari jumlah penduduk) dan pada tahun 2020 diperkirakan akan berjumlah 28,8 juta (11,34%). Hasil pendataan yang dilakukan pada tahun 2007 ditemukan penduduk Lansia berjumlah 18,96 juta (8,42% dari total penduduk) dengan komposisi perempuan 9,04% dan 7,80% laki laki (Badan Pusat Statistik, 2013). Semakin meningkatnya jumlah lansia di Indonesia akan menimbulkan permasalahan yang cukup komplek baik dari masalah fisik maupun psikososial. Masalah psikososial yang paling banyak terjadi pada lansia adalah stress (Tamher & Noorkasiani, 2009).

 

D. Hubungan Terapi Tertawa, Stress dan Lanjut Usia

Dengan dilakukannya terapi tertawa secara terus menerus dan berkelanjutan, maka stress yang sering dialami lansia pun akan sedikit demi sedikit teratasi. Karena dengan terapi tertawa, para lansia bisa merasakan kegembiraan di dalam hati yang dikeluarkan melalui mulut dalam bentuk suara tawa, senyuman yang menghias wajah, perasaan hati yang lepas dan bergembira, dada yang lapang, peredaran darah yang lancar sehingga bisa mencegah penyakit, memelihara kesehatan, serta menghilangkan stress (Farida Umamah, 2017).











DAFTAR PUSTAKA

Selo, J., Candrawati, E., Putri, R, M. (2017). Perbedaan Tingkat Stres Pada Lansia Di Dalam Dan Di Luar Panti Werdha Pangesti Lawang. Nursing News, 2, 522-533.
Nurwela, T, S., Mahajudin, M, S., Ardiningsih, S. (2015). Efektivitas Terapi Tertawa Untuk Menurunkan Tingkat Depresi Pada Lanjut Usia. Jurnal Ilmiah Kedokteran, 4, 62-76.
Umamah, F., Hidayah, L. (2017). Pengaruh Terapi Tertawa Terhadap Tingkat Depresi Pada Lansia Di Panti Uptd Griya Wreda Surabaya. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 10, 66-75.
A Kripa Angeline., R Madhavi. (2015). Effect Of Laugh Therapy On Patients With Hypertension. Coimbatore, India. International Journal of Recent Scientific Research, 6, 7078-7083.
Demir Melike. (2015). Effects Of Laughter Therapy On Anxiety, Stress, Depression And Quality Of Life In Cancer Patients. J Cancer Sci Ther, 7, 272-273.